Bagi masyarakat umum, program sertifikasi dianggap sebagai "uang nemu" yang didapatkan oleh para guru. Penghasilan yang dianggap sebagai uang cuma-cuma untuk para guru. Hal ini tentu wajar karena mereka menganggap program ini menjadikan guru memiliki penghasilan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Sehingga banyak masyarakat yang menganggap betapa mudah dan enaknya menjadi guru. Kerja sedikit namun bayaran berlipat. Sehingga tak sedikit yang ingin beralih profesi menjadi tenaga guru.

Terlepas dari semua anggapan tersebut, sesungguhnya ada begitu banyak kesulitan dan kerja keras untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi tersebut. Karena disana ada banyak persyaratan yang harus dilaksanakan oleh guru yang ingin mendapatkan tunjangan tersebut. Dimulai dari proses pendaftaran sertifikasi sampai proses untuk mendapatkan tunjangan tersebut.

Sedih rasanya melihat perkembangan pendidikan di negeri kita saat ini. Bagi mereka yang tidak terlibat secara langsung dalam dunia pendidikan, barangkali akan merasakan kebanggaan dengan perkembangan pendidikan kita saat ini. Namun bagi mereka yang terlibat dan tahu persis dengan perkembangan yang terjadi    maka akan merasakan keprihatinan yang mendalam.

Bagi sebagian orang mengikuti PLPG adalah hal yang menyenangkan. Karena sesungguhnya disana para peserta akan mendapatkan banyak sekali ilmu tentang bagaimana menjadi guru yang profesional. Disamping itu, mereka dapat berbagi ilmu dan pengalaman dengan peserta lain yang berasal dari sekolah atau daerah yang berbeda. Sehingga akan banyak sekali manfaat yang diperoleh dengan mengikuti PLPG. Apalagi itu menjadi prasyarat untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi.

Sayangnya semua itu tidak dirasakan oleh semua peserta yang ikut dalam kegiatan PLPG. Karena Tak sedikit pula dari para peserta tersebut yang merasa stress dan begitu tertekan saat mereka mengikuti PLPG. Banyak diantara peserta yang langsung masuk rumah sakit karena stress, atau bahkan sampai ada yang meninggal di saat mengikuti PLPG. Sehingga ada peserta yang mengundurkan diri dari keikutsertaan mereka dalam PLPG karena faktor stress atau faktor ketakutan untuk mengikuti proses kegiatan dalam PLPG.

Setiap kita tentu masih ingat apa yang orang tua kita lakukan untuk mencegah kita dari tindakan yang tidak diinginkan oleh orang tua kita. Salah satu cara yang efektif adalah dengan menakuti kita dengan sesuatu yang dianggap  menyeramkan dan menakutkan. Misalnya saja mengatakan, "awas nanti ada hantu kalau menangis terus". Atau dengan mengatakan,"awas nanti ada orang gila kalau keluar rumah". Atau barangkali dengan mengatakan, " awas nanti ada tikus besar kalau tidak mau bobok". Atau mungkin kalimat-kalimat lain yang biasa digunakan untuk mencegah anaknya untuk tidak menangis, pergi, atau minta sesuatu.

Bisa dikatakan cara ini memang cukup efektif untuk meredam keinginan anak-anak agar tidak melakukan hal yang tidak berkenan bagi orang tua mereka. Karena banyak diantara anak-anak tersebut yang memang mau menuruti apa yang dikehendaki oleh orang tua mereka. Terlebih lagi jika sang orang tua menambahkan bumbu-bumbu cerita yang semakin membuat anak takut dan percaya akan kata-kata orang tua mereka. Sehingga kebiasaan untuk menakut-nakuti anak menjadi kerap dilakukan oleh orang tua sebagai senjata andalan para orang tua tersebut.

Konflik dalam keluarga merupakan hal yang umum dialami oleh pasangan dalam sebuah keluarga. Hal ini biasanya terjadi setelah masing-masing pihak mulai memahami kelebihan serta kekurangan yang dahulu belum atau tidak terlihat saat menjalin hubungan. Maka bagi mereka yang sudah lama membangun dan menjalani proses berumah tangga, pasti tidak akan kaget bila menemui konflik dalam kehidupan rumah tangga mereka. Yang terpenting adalah konflik yang ada hendaknya masih sebatas konflik kecil. Andai sampai mengalami konflik yang besar, maka yang diharapkan adalah masih adanya kemampuan dan kemauan untuk menyelesaikan konflik yang ada.

Sesungguhnya, ada hal positif yang bisa menjadikan hubungan keluarga menjadi lebih harmonis dengan adanya konflik yang terjadi. Tentu setelah konflik berhasil diselesaikan oleh kedua belah pihak. Karena bagaimanapun, konflik yang muncul dapat menghindarkan kehidupan keluarga dari kebosanan. Hal ini bisa saja terjadi karena setiap manusia diberikan sifat alami untuk menemukan dan merasakan sesuatu yang berbeda dan berubah. Sehingga tatkala mereka mengalami proses yang statis, akan terasa membosankan. Dan yang terjadi adalah perasaan untuk mencari sesuatu yang baru. Dan bisa jadi menciptakan konflik adalah salah satu bentuk ekspresi untuk menghindari kebosanan dalam menjalani proses berumah tangga. Atau bisa dikatakan bahwa konflik dalam keluarga adalah bumbu pedas untuk menambah nikmat rasa dan selera makan.

← Previous Page Next Page →